Rabu, 01 Januari 2014

Memoir kampung Halaman



Kembali lagi ke kota ini
Menapak kerinduan yang masih ku cari
Bukan karena damai atau cinta ku bawa raga ini kembali
Mungkin karena kepingan kasih yang masih tercecer menungguku
Menungguku untuk dikumpulkan dan disusun lalu ku bawa pegi
Menjauh dari dunia yang dihuni sekumpulan makhluk baik hati
Baik hati?
Ya yang terkadang kalap dalam tangis yang membabi
Aku ingin pergi
Aku ingin berlari
Hanya membawa satu raga yang seolah sudah mati
Dan mungkin aku akan membawa bunda untuk turut pergi
Bukan berlari lagi, tapi aku akan memperlambat langkah kaki
Seraya membawa seikat bunga lili
Bukannya aku ingin mati
Namun sekedar menutup mata dan mempermudah si elang memburu kami
Atau bahkan elang pun enggan kami mati
Atau sebaliknya, dia bersiasat menyiksa kami
Dan pada akhirnya aku dan bunda pun menunggu mentari
Menyapa pagi yang dingin tanpa melodi
Lelap lelap bunda tidur di atas bukit berapi
Penuh abu dan dingin yang memaki
Aku tak menagis, hanya mengenakan topeng badut dan menari-nari
Bukan bahagia, hanya mencoba menghibur diri
Masih saja mati.....
Sementara anganku makin meninggi
Egoku makin membabi dan tak terkendali
Jemari pun turut menari di atas kertas hitam penuh duri
Duri dari sejuta air mata yang menetes tiada henti
Semakin sesat, semakin murtad, semakin khianat jiwa ini
Lalu semua yang menjerat pupus satu per satu, tiada senjata yang melindungi
Layaknya mawar yang kehilangan duri
Entah bagaimana lagi harus melindungi diri
Bukannya menyerah namun lebih baik terkubur semakin dalam lagi
Memupuk semua angan sebagai mimpi
Dan tak akan pernah kembali...................


 Fajar Hidayah
Blitar Selasa, 24 Desember 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar