Kembali
lagi ke kota ini
Menapak
kerinduan yang masih ku cari
Bukan
karena damai atau cinta ku bawa raga ini kembali
Mungkin
karena kepingan kasih yang masih tercecer menungguku
Menungguku
untuk dikumpulkan dan disusun lalu ku bawa pegi
Menjauh
dari dunia yang dihuni sekumpulan makhluk baik hati
Baik
hati?
Ya yang
terkadang kalap dalam tangis yang membabi
Aku
ingin pergi
Aku
ingin berlari
Hanya
membawa satu raga yang seolah sudah mati
Dan
mungkin aku akan membawa bunda untuk turut pergi
Bukan
berlari lagi, tapi aku akan memperlambat langkah kaki
Seraya
membawa seikat bunga lili
Bukannya
aku ingin mati
Namun
sekedar menutup mata dan mempermudah si elang memburu kami
Atau
bahkan elang pun enggan kami mati
Atau
sebaliknya, dia bersiasat menyiksa kami
Dan
pada akhirnya aku dan bunda pun menunggu mentari
Menyapa
pagi yang dingin tanpa melodi
Lelap
lelap bunda tidur di atas bukit berapi
Penuh
abu dan dingin yang memaki
Aku tak
menagis, hanya mengenakan topeng badut dan menari-nari
Bukan
bahagia, hanya mencoba menghibur diri
Masih
saja mati.....
Sementara
anganku makin meninggi
Egoku
makin membabi dan tak terkendali
Jemari
pun turut menari di atas kertas hitam penuh duri
Duri
dari sejuta air mata yang menetes tiada henti
Semakin
sesat, semakin murtad, semakin khianat jiwa ini
Lalu
semua yang menjerat pupus satu per satu, tiada senjata yang melindungi
Layaknya
mawar yang kehilangan duri
Entah
bagaimana lagi harus melindungi diri
Bukannya
menyerah namun lebih baik terkubur semakin dalam lagi
Memupuk
semua angan sebagai mimpi
Dan tak
akan pernah kembali...................
Fajar
Hidayah
Blitar
Selasa, 24 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar